Snapshot di 2016

Hola!

2016 sudah berakhir. Banyak orang merayakannya. Fireworks, terompet, petasan dan stuffs lainnya menggelora di langit Rotterdam. Beberapa teman megirim pesan selamat tahun baru. Dari Indonesia, dari Australia, juga dari benua Amerika. Terasa berbeda perayaan tahun baru di 2017 ini.

Kepingan-kepingan cerita berkelebat di ingatan, sekarang. Buat saya, tahun 2016 adalah tahun perjuangan, di mana hidup mengajarkan saya untuk tabah dan selalu fighting mengejar mimpi. Saya telah jatuh berulang kali dalam beberapa percobaan untuk meraih cita-cita. Terperangkap dalam sebuah dunia pendidikan yang saya bahkan nggak menyukainya adalah sesuatu yang sangat menyebalkan. Ditambah lagi Bapak yang dipanggil terlebih dahulu oleh yang maha kuasa. Lalu saya mengais rupiah di sebuah perusahaan kecil di ibukota, yang jauh dari harapan.

Saya menolak untuk diam di lingkungan yang saya tidak nyaman di dalamnya. Saya yakin masih ada kesempatan untuk lari. Masih ada spasi untuk bergerak. Bapak pernah bilang, “Kamu harus kuliah ke Eropa. Kejar mimpimu ke dunia biru!” Kata-kata ini yang saya pegang hingga akhirnya kekuatan itu tetap menyala meski banyak orang mencibir. Yang nyuruh kerja tinggal di rumah. Sedikit yang mendukung, tapi dukungan dari Ibu adalah nyala api kecil yang pada akhirnya membara membakar tekad saya.

Saya resign dari professional job saya di bulan Juni 2015, lalu ambil kursus bahasa di Global English, Kampung Inggris Pare. Tiga bulan saya di sana (November 2015 – Januari 2016), ketemu orang-orang hebat dengan mimpi yang serupa. Di sana saya bisa belajar bahasa Inggris dengan begitu khusuknya. Banyak cacatnya, tapi sedikit yang mencela. Salah pronunciation di mana-mana, spelling kacau balau, broken English. Tulisan in English yang ke-Indonesia-Indonesiaan. Tapi, di sana saya dan teman-teman belajar satu sama lain, membenarkan, mengoreksi sama-sama. Penyakit orang Indonesia yang menertawai sanak bangsanya yang belajar bahasa asing sedikit saya temui di sini. Tekad saya satu, harus 6.5. Ini tes IELTS yang ketiga kalinya. “Gagal lagi, dapat piring cantik!”, pikir saya. Continue reading “Snapshot di 2016”

Advertisements
Snapshot di 2016

Serba-Serbi Wawancara Beasiswa

Sebelumnya, saya ucapkan selamat terlebih dahulu kepada teman-teman yang telah membaca tulisan saya ini. Karena dengan membuka blog update saya ini, bisa jadi teman-teman telah berhasil lolos seleksi administratif dari suatu scholarship provider atau setidaknya ada niat untuk menjadi pemburu beasiswa. Sekali lagi selamat!

Kali ini saya pengen share pengalaman saya ketika mengikuti seleksi wawancara atau interview beasiswa. Sekedar informasi, saya dulunya mendaftar 3 beasiswa untuk program master study saya, yaitu StuNed, beasiswa Dompet Dhuafa, dan LPDP. Untuk beasiswa StuNed, proses seleksinya terbilang cukup mudah karena hanya dengan sekali tahap saja. Sedangkan dua beasiswa yang lain; Dompet Dhuafa dan LPDP mewajibkan pendaftar untuk mengikuti seleksi wawancara apabila dinyatakan lolos pada seleksi administratif (kelengkapan dokumen) sebelumnya. Pada seleksi beasiswa LPDP, saya berhasil lolos sampai ke tahap seleksi substantif, di mana dalam seleksi ini ada 3 tahapan yang salah satunya adalah wawancara. Dan tahapan inilah yang paling menentukan lolos atau tidaknya kita sebagai penerima beasiswa.

interview

(diambil dari sini)

Sebenarnya wawancara beasiswa tak ubahnya seperti wawancara kerja. Similar! Jadi hal yang dipersiapkan pun sebenarnya sama saja. Kuncinya di sini adalah pada persiapan dan luck. Kunci yang pertama bisa kita latih sebaik mungkin, sementara kunci yang kedua bisa kita buka dengan rajin-rajin berdoa dan berbuat kebaikan :).

Meskipun begitu, masih banyak yang was-was ketika akan menghadapi wawancara beasiswa. Beberapa hal mengerikan, seperti bayangan sosok interviewer yang galak di tengah situasi yang mencekam seringkali muncul begitu saja menjelang interview. Belum lagi membayangkan pertanyaan-pertanyaan apa sih yang akan ditanyakan oleh interviewer kepada kita nanti. Apakah pertanyaannya slow dan standar saja sehingga kita mudah untuk menjawabnya? Atau justru pertanyaannya susah sampai-sampai kita speechless dibuatnya? Continue reading “Serba-Serbi Wawancara Beasiswa”

Serba-Serbi Wawancara Beasiswa

One Week to Go

You might be wonder how time flies and fate destined you to stay for a while in someplace which you have even never thought before. That’s what I feel today. Looking like a tramp as my clothes are going to be packed in my lovely giant-red-suitcase. Still can’t believe it.

It’s about one week to go prior to my departure to the Netherland. Rotterdam, the name of the Dutch city’s port which previously I could only hear from the historical books when I was in the high school would be my next destiny at least for one year period ahead. Thanks to the God for Your gift and also to LPDP, my scholarship’s provider for giving me a golden opportunity to continue my master study program there. I wish the Netherland would be the home away from home for me.

On my previous update, I told you about my last day syndrome. It means syndrome before I leave my beloved hometown to struggle in the new habitat. Staying for a while in the new places which is quite different from your hometown is totally challenging.  However, there are several creepy matters apprehensively disturb my mind.

It will always hard when I imagine that incoming farewell day with my families at the airport. Airport could be extremely emotional for some people. There would be probably a tragic separation and so much tears there. It may be hard for me to leave my mom and my younger brother alone in our home. However, to be a greater and a better person you must leave your comfort zone, don’t you?

As an ambivert with moderate tendency of introversion, I have insecure feeling that sometimes made me anxious. Continue reading “One Week to Go”

One Week to Go

The Last Day Syndrome

It’s been awhile since my last blog update “Takut”. And now I share similar post though, about “afraid”. Again.

Well… 04 September 2016. Dua minggu menjelang keberangkatan saya ke Belanda, saya merasakan satu kegusaran. Saya rasa ini yang namanya the Last Day Syndrome.

Satu band punk-rock asal Amerika, Green Day menulis sebuah lagu yang cukup fenomenal berjudul “Wake Me Up When September Ends”. Belakangan, lagu ini sering diputar di radio-radio yang juga mendadak ramai di listen to a song timeline Path saya. Satu perasaan emosional tentang bagaimana perpisahan mewarnai kehidupan manusia terlukis jelas di lagu ini dengan mengambil setting waktu: September.

Saya pun demikian: mendadak melankolis di bulan pertama dalam satu tahun yang punya suku akhir “-ber” ini. Saya bahkan telah menandai ini sebagai waktu perpisahan, permulaan, dan penuh emosional.

Kamu mungkin tanya, “Kenapa gitu?”

Karena di bulan ini semua jenis emosi saya diuji. Emosi tentang bagaimana meninggalkan ibu, adik, teman-teman, orang-orang tersayang, juga negeri tercinta untuk pindah ke tempat baru ke negara orang.

Let me tell you the basic info of my life. Saya lahir di sebuah desa kecil, di kota yang kecil pula bernama Jepara. Saya hanya sekali traveling ke luar negeri, itu pun ke Singapura yang hanya berjarak kurang dari 900 km dari tanah lahir saya.

Continue reading “The Last Day Syndrome”

The Last Day Syndrome

Takut

Quotes-Fear

(diambil dari sini)

Takut.

Satu kondisi yang manusia sulit untuk hindari. Sehebat dan sekuat apapun manusia, tetap saja setidaknya sekelebat ketakutan itu akan hadir. Entah dalam kosongnya pikiran atau di tengah ramainya suasana sekitar.

Ketakutan bersembunyi penuh misteri dalam angan atau pikiran. Menolak lepas dari jiwa-jiwa gigih manusia. Saya benci takut. Ia hanya menjadi penghambat dalam hal baik yang manusia akan lakukan. Bisa jadi segala tindakan yang orang-orang lakukan tidaklah 100% dari yang bisa mereka berikan. Ini karena takut mengganjal setiap langkah mereka. Tapi dengan mampu melawannya, manusia akan menjadi lebih kuat. Lebih bijak.

Fear-Quotes-32

(diambil dari sini)

Orang-orang yang berhasil dalam hidupnya adalah mereka yang mampu melawan ketakutan mereka. Di balik setiap ketakutan akan mengintip satu atau banyak pintu sukses. Saya rasa dalam beberapa kondisi, manusia hanya perlu nekad tanpa banyak berpikir. Karena banyak berpikir hanya menumpuk ketakutan.

Takut seperti racun. Membayangi dalam setiap langkah manusia. Mereka yang phobia ketinggian akan selamanya takut dengan ketinggian, jika mereka gagal melampaui batas ketakutan mereka. Tapi mereka yang berhasil mengalahkan phobia itu akan berdiri paling tinggi di antara orang-orang yang lain. Mereka seperti menjadi juara lomba kehidupan, merdeka dari belenggu, menang karena penaklukan.

110237-thoughtfull-quotes-fear

(diambil dari sini)

Untukmu yang selalu merasa ketakutan.

Ada 2 makna ketakutan. Pertama, lupakan semuanya. Lupakan segala hal yang membuatmu takut. Lalu berlarilah. Sejauh yang kamu bisa. Meleburlah dalam takutmu. Menderitalah dalam hidupmu. Kedua, hadapi segalanya. Hadapi setiap kondisi yang membuat hidupmu janggal. Merdekakanlah dirimu dari belenggu ketakutan. Jangan pernah lari. Tapi bangkitlah karena kamu menaklukannya. Berdirilah selayaknya ksatria sang juara.

 

Takut

“Go Ahead, Anything for Science!”

Diam sendirian di sebuah kamar setelah rehat dari masa-masa “main bareng teman-teman” membuat saya teringat akan nasihat Bapak saya sendiri. Bapak, yang sekarang sudah pergi teramat jauh dan tidak akan pernah kembali ke dunia ini, adalah sosok inspirasional saya. Beliau adalah panutan, rumah tempat saya pulang dan sumber penyemangat tanpa jeda.

Saya adalah salah satu tipe manusia yang sangat direct, apa yang ingin saya sampaikan selalu saya sampaikan. Meskipun itu kadang menyakitkan bagi lawan bicara saya. Menurut saya itu lebih baik daripada memendam. Tapi, lain cerita dengan bagaimana saya bersikap dengan Bapak. Saya bahkan sangat sulit untuk sekadar bilang, “Dad, you are my hero! I adore you so much.” Saya tidak pernah bisa.

Bapak sangat mencintai anak-anaknya. Beliau pernah bilang, “Bagaimanapun susahnya hidup ini, jangan pernah menyerah! Bersusah-susahlah saat ini, di kala kamu masih muda”, katanya.

Masa kecil Beliau tidaklah mudah. Beliau adalah seorang pemimpi dan pejuang untuk bisa hidup enak, nyaman, itu saja. Beliau banting tulang sendiri sedari kecil, berjuang mengumpulkan pundi-pundi rupiah untuk dapat bersekolah sampai jenjang SPG (Sekolah Pendidikan Keguruan), jenjang pendidikan tertinggi untuk menjadi seorang guru.

Satu hal yang menjadi perhatian besar Bapak saya adalah concern beliau terhadap pendidikan. Terlebih terhadap science. Motivasi dan kepercayaan beliau adalah satu sumber kekuatan terbesar untuk saya terus maju dan melihat luasnya cakrawala dan berpetualang mengelilinginya. Continue reading ““Go Ahead, Anything for Science!””

“Go Ahead, Anything for Science!”

Tips Persiapan Mendaftar Postgraduate Universitas Luar Negeri

Sepenglihatan saya, animo pelajar Indonesia untuk melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi, baik itu di dalam maupun di luar negeri, telah mengalami peningkatan dalam beberapa tahun terakhir ini. Tersedianya fasilitas, seperti LPDP yang dapat membiayai full uang perkuliahan, akomodasi, serta living allowance menjadi salah satu pemicunya. Jelas ini kabar baik untuk masa depan negeri ini.

Di sini saya akan share mengenai apa saja yang harus dipersiapkan untuk mendaftar ke universitas favorit luar negeri. Well… Ada beberapa hal yang harus teman-teman perhatikan sebelum mendaftar ke universitas tujuan. Untuk mendapat hasil yang terbaik, kita harus melakukan persiapan dengan baik pula. Begitupun untuk kasus mencari universitas yang cocok untuk pendidikan kita. Berikut tips yang bisa teman-teman pilih sebagai bekal persiapan memilih perguruan tinggi:

1. Identifikasi Ketertarikan

Follow-your-Passion

(diambil dari daviddewolf.com)

Sangat penting untuk mengenal diri sendiri dan passion kita itu ada di mana. Identifikasi di sini meliputi ketertarikan dalam hal akademik dan ingin berkarier dimana setelah lulus nanti. Misalnya teman-teman S1 di ilmu kelautan-kemaritiman dan ingin melanjutkan studi ke arah yang lebih spesifik, manajemen pelabuhan. Maka teman-teman harus sesuaikan ketertarikan itu dengan program S2 yang akan teman-teman ambil. Ingat, edukasi penting, tapi kita juga harus realistis terhadap rencana karier setelah lulus nanti.

2. Lakukan Self-Research

Self-Research ini penting banget untuk kita lakukan dalam hal menentukan pilihan ke universitas mana kita akan melanjutkan studi. Di era modern seperti sekarang, kita bisa melakukan self-research dengan berselancar ria melalui internet. Beberapa website menyediakan fasilitas study-finder, di mana kita bisa cek universitas mana saja yang menyediakan course atau program studi yang kita inginkan lengkap dengan rating kualitasnya.

3. Cari tahu Keunggulan Program yang Diminati

Beberapa program studi yang kita minati tersedia di beberapa universitas favorit. Lantas apa yang selanjutnya perlu kita perhatikan untuk memilih program studi yang tepat dengan passion kita? Pertama, pastikan program studi itu termasuk ke dalam program studi favorit di universitas. Kedua, perhatikan fasilitas riset, ketersediaan profesor, ikatan alumni, juga link ke industri (jika orientasi karier nantinya adalah di dunia industri). Continue reading “Tips Persiapan Mendaftar Postgraduate Universitas Luar Negeri”

Tips Persiapan Mendaftar Postgraduate Universitas Luar Negeri